Showing posts with label nasehat ulama salaf. Show all posts
Showing posts with label nasehat ulama salaf. Show all posts

Nasehat Ulama untuk Pilih Pilihlah Kalau Mau Mengaji

Kayak iklan minyak kayu putih, Buat anak kog pake coba-coba, demikian pula dalam hal mengaji. Ngaji kog ustadnya coba-coba. Kalau minyak kayu putih paling efeknyanya duniawi, kalau coba-coba pilih tempat ngaji jelas dunia akherat efeknya.

So, kayak apa sih ustadz atau ustadzah yang 'patut dihindari'. Yang pertama, biasanya dia itu orang yang kalau dakwahnya 'asal ngomong saja'. Dia ustadzah / ustad yang memberikan pengajian tanpa mau memeriksa penjelasan terdahulu dari kalangan ulama salaf. Simak deh bahwa paa ulama saja sudah menjelaskan Larangan Berfatwa Tanpa Bimbingan Salafush Shalih:

gambar persimpangan jalan kebenaran dan salah bagus
sangat tipis bedanya
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata:
Siapa saja yang mengatakan sesuatu dengan hawa nafsunya, yang tidak ada seorang imampun yang mendahuluinya dalam permasalahan tersebut, baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat beliau, maka sungguh dia telah mengadakan perkara baru dalam Islam. 

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Barangsiapa yang mengada-ada atau membuat-buat perkara baru dalam Islam maka baginya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat, dan manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menerima infaq dan tebusan apapun darinya’.”

8 Nasehat Penting Ulama Salaf


Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh, bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim, “Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?”
Hatim rahimahullâh menjawab: “(Saya telah mempelajari) delapan perkara:
Pertama : Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah darinya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur.
Kedua : Saya melihat kepada Firman ALLAH Ta’âlâ, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nâzi’ât : 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada ALLAH Ta’âlâ.
Ketiga : Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga baginya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (ALLAH) Subhânahu wa Ta’âlâ, “Apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi ALLAH adalah kekal.” [An-Nahl :96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-NYA agar ia kekal untukku di sisi-NYA.